Kamis, 25 Maret 2021

PELUKAN TERAKHIR

Saya Mencintainya Dan Dia Pun Mencintai Saya,  Dia Lelaki Yang Gagah, Rendah Hati, Penuh Kasih dan Luar Biasa Dia Adalah Papa, Yah Papa Yang Selalu Menganggap Saya Sebagai Putri Kecilnya Meski Saya Saat Ini Sudah Berstatus Mahasiswa. 

Hubungan Kami LDR Karena Saya Kuliah Di Salah Satu Universitas Negeri di Luar Pulau Papua, Meski Demikian Kasih Sayang Dari Papa Selalu Saya Rasakan Walau Hanya Lewat Telepon

Tepat Di Bulan Ke 12 Dalam Kalender Bulan Yang di Nanti Nanti Setiap Mahasiswa Dan Libur Semester pun Tiba, Saya Akan Segera Pulang Ke Papua untuk rayakan Natal Dengan Keluarga Besar Di Sana, Di Dalam Pesawat Saya Sudah Bayangkan Keramaian Dalam Rumah dan Bagaimana Isi Mama Punya Dapur Sambil Tersenyum. 

Setelah Pesawat Mendarat Di Bandar Udara Sentani, Saya Cepat Cepat Mengambil Barang Barang Saya Dan Turun, buruh Buruh Saya Keluar Lewat Pintu Kedatangan Sambil Mencari Cari, Dari Belakang Papa Sentuh Pundak Saya Sambil Berkata 
Papa: "Apa Yang Di Cari Tuan Putri" dengan Senyum Campur Haru Saya Memeluknya Melepas Semua Kerinduan.
Setelah Itu Papa Dan Saya Menuju Ke Rumah Menggunakan Sepeda Motor Sepanjang Jalan Papa Cerita Segala Hal Yang Terjadi Selama Saya Di Kota Studi.
Perjalanan Kami di Penuhi Perdebatan, Canda Dan Tawa...

Sampai Papa Memberhentikan Motor Tepat Di Halaman Rumah Kami, Saya Turun dengan Senyuman Memeluk Mama, Dan Saudara Saudara Saya Dunia Saya Terasa membaik Rumah Penuh Dengan Suka Cita Banyak Keluarga Yang Sudah Kumpul Di Sana Kebahagian Terlihat dari Setiap Orang Yang ada Di rumah.
 Ketika Malam Tiba papa membawa Gitarnya Menuju Teras Rumah Sambil Mengajak Saya Papa Mainkan Melodi Gitar itu Mengiringi Suara Saya, Setelah Saya Lelah Bernyanyi Saya Tidur di Pangkuan Papa. Papa Menyanyikan Lagu I Loved her First yang Menceritakan Cinta Seorang Ayah Kepada Putrinya dengan Alunan petikan Melodi Yang Santai Mengantarkan Saya Ke Dunia Mimpi

Hari Hari Liburan Saya Penuh Kebahagian Selama Liburan Saya Selalu Menemani Papa Kemana Pun Papa Pergi. Aktifitas Kami Selalu Di Isi Dengan Aktifitas Yang Dapat Di Kenang

Waktu liburan Selesai Saya Harus Pulang Ke Kota Studi, dengan Berat Hati Saya Memeluk Papa Di Bandara Tidak ada Firasat kalau Pelukan Itu Adalah Pelukan Yang Terakhir.

 Saya Melanjutkan Keseharian Saya Di Kota Studi Seperti biasa Sebagai Mahasiswi, Papa Di Sana Juga Melanjutkan Kesehariannya Sebagai Seorang Guru

Hari Hari Kami Selalu Berbicara lewat Telepon Sampai Pada Suatu Hari! saya Mendapat Kabar Papa Sakit Berat, Hati Ini Di Penuhi Kegelisahan Kuliah Saya Tidak Fokus di Tambah Saya Di Larang Keluarga untuk Menghubungi Papa, Karena Setiap Papa Mendengar Suara Saya Papa Selalu Menangis dan Hal Itu Mengganggu Kesehatannya.

Saya Mengalah Karena Tidak Ingin Kesehatan Papa Memburuk, Meski Begitu Saya Selalu Doakan Papa Sekalipun Doa Makan, Saya Selalu Menitipkan Kesembuhan Papa Di Sana Tapi Semua Sia Sia Karena Tuhan Tidak Berpihak Pada Doa Doa Saya

Tepat di Bulan Ke 9  Saya Di Kota Studi Kabar Buruk Yang menghancurkan Hidup Saya pun Datang Bagaikan Badai Yang Terkesan Singkat Tapi Lukanya Membekas Begitu Dalam
Jam 19:00 WITA Telepon Saya Berdering  Ternyata Telepon Dari Kaka saya buruh buruh Saya Angkat Teleponnya

"Kaka: dengan Suara Menahan Tangis "ade Bapa Tuhan Sudah Panggil"

Saya Masi Mencoba Untuk Tenang Dengan Bertanya Kembali

Saya: yang Kaka Maksud Ini apa?

Kaka: Bapa Tuhan Sudah Panggil Sambil Menangis"

Tangisan Pun Pecah Air Mata Saya Bercucuran Menguraikan Kekecewaan Yang Begitu Dalam, Yang Memukul Hati Membuat Saya Tidak Berdaya.
Hati kecil Ini Berkata Saya Belum Cukup Dewasa Untuk Hidup Tanpa Nahkoda, Papa You Are My Best Father,Best Partner and My Angel

*TAMAT*

PELUKAN TERAKHIR

Saya Mencintainya Dan Dia Pun Mencintai Saya,  Dia Lelaki Yang Gagah, Rendah Hati, Penuh Kasih dan Luar Biasa Dia Adalah Papa, Yah Papa Yang...